Oleh: joelz | Mei 14, 2007

Dimana AKU

 


Dialog dengan Ki Bashiro dari Jember
Jumat, 3 November 2000

Ki Bashiro:

Terima kasih, atas penghormatan Bapak Anand Krishna. Para hadirin yang dimuliakan Allah, berkat rahmat Allah kita bisa berkumpul malam ini, semoga dalam pertemuan ini kita mengenal hakiki dari maksud Allah menciptakan manusia. Sebetulnya perjalanan manusia akhir jaman seperti kita ini kita tinggal menikmati, surga hidup di alam sementara. Allah telah membekali petunjuk, manusia ialah makhluk yang paling sempurna, tentunya tidak kekurangan sesuatu apapun, tetapi kenapa dalam perjalanannya, manusia ini tidak selesai-selesai menghadapi masalah. Para hadirin yang dimuliakan Allah, malam ini merupakam pertemuan kedua kalinya dengan Bapak Anand, tempo hari ketemunya di Surabaya, sehubungan dengan adanya hujatan-hujatan terhadap buku-bukunya beliau, kami berbagi rasa, mulai dari Surabaya, berlanjut pada malam hari ini.
Manusia diberangkatkan dari kehendak yang menciptakan, kenapa kita masih berkehendak pula. Tentunya kita harus mengenal kehendak yang menciptakan kita, kita dipercaya selama masa perjalanan hidup yang hanya sementara ini, petunjuk sudah dibekalkan, kitab-kitab sudah diwahyukan, Quran dinyatakan kitab terakhirnya, jadi kalau Quran dikatakan kitab terakhirnya, kapan keberangkatan Quran, tentu ada awalnya tetapi kenapa masih dikatakan Zabur sebagai kitab yang pertama, berlanjut dengan Taurat, berlanjut dengan Injil, terakhir Quran, yang menampung kebenaran kitab-kitab sebelumnya, padahal di dalam Quran sudah dijelaskan, wahyu pertama itu adalah Al-alaq, segumpal darah, berasal dari darah putih sperma Adam dan Hawa, itu khan sudah Quran.

Para hadirin yang dimuliakan Allah, tidak ada lawan bagi manusia akhir jaman ini, musuh manusia adalah diri sendiri, mestinya manusia ini berangkat mengenal diri dulu, baru percaya diri, setelah itu kapan saja, dimana saja dengan siap saja, pasti bisa menempatkan diri karena tahu diri.
Para hadirin yang dimuliakan Allah, Mujizat dari Quran itu mengantar umat sampai tujuan sebagaimana utusan-Nya, bisa menghadap Sang Pencipta di saat hidup seperti sekarang ini, tapi kenapa kita sebagai umatnya itu kok kesulitan sekali.
Para hadirin yang dimuliakan Allah, jadi kalau Quran ini didinyatakan wahyu pertamanya Al-alaq, sebetulnya dari Adam dan Hawa dipertemukan kembali di Bumi, punya putra Khobil dan Hobil, itu sudah Quran, itu sudah Quran. Sampai sekarang pun proses manusia ini tak lepas dari perjalanan Khobil dan Hobil, Putra dari Adam dan Hawa.

Keberangkatan manusia ini dari makanan-makanan yang dimakan oleh orang-orang sebelumnya yang dikenal (sebagai) Ibu Bapak, diambil nabatinya, berangkatlah wujud spermanya, diciptakan sesuai kehendak-Nya baru tercipta Jasmani dalam kandungan, dipertemukanlah dengan Roh Jasmani, di situ ada gerak kecil, akhirnya muncullah, turunlah ayat yang kedua, wahai orang-orang berselimut, itu Roh, ini selimut, ada gerak kecil di situ, sebetulnya manusia harus nggak silau, hidup di alam sekarang nggak silau, disaat jasmani dipertemukan dengan roh jasmani, di situ sudah diperkenalkan dengan alam prosesnya, sudah berbulan madu antara roh jasmani dan jasmani, berbulan madu di alam insan kamil, agar seperjalanan disaat dihidupkan seperti sekarang biar nggak mengambil sesuatu untuk menjadi sempurna dengan hidup yang baru ditemukan, terus berlanjut berbulan madu pada alam Jizir, agar tidak terpesona, dalam menjalankan tugas ini nggak akan kandas, biar nggak tersendat-sendat, biar lancar, diperkenalkan dengan alam Jizir di situ, untuk tidak silau dengan sosok, dengan bentuk-bentuk apa yang ada di dunia ini, terus berlanjut dibulanmadukan kepada alam Hizar, biar hidup di dunia sekarang tidak mengandai-andai, tidak bermisal-misal, hidup di kenyataan, ini semua pada dilupakan, bahwa jasmani ini punya janji sanggup dihidupkan di alam sementara kayak gini ini ada janji, sudah pada dilupakan, terus berbulan madu pada alam Arwah, hidup di alam sementara ini biar nggak takut mati, wong kita ditugas kok kita takut mati, :-) , mati itu nggak ada, mati itu ada seperjalanan manusia belum kenal diri, itulah mati, perjalanan (dimana) tugasnya tidak akan terpenuhi, terus belanjut pada alam kuasa-Nya, Alam Wahallah, kata Arobbiah, agar seperjalanan dihidupkan di dunia ini, kedudukan manusia itu sama satu dengan lain, tidak ada beda, tidak ada orang Indonesia, nggak ada orang India, nggak ada orang Belanda, walupun makannya tiap hari berbeda, tapi diberangkatkan dari sperma Ibu dan Bapak, Lelaki dan Perempuan, di situ adilnya Allah, maka di saat berbulan madu alam kuasa, Alam Wahidiyah, agar seperjalanan hidup sekarang ini tidak mudah dikuasakan apa yang sudah jadi amanah jasad ini titipan, manusia nggak punya apa-apa, ini tetesan sperma ibu bapak, namapun pemberian ibu bapak, punya apa kita manusia, terus kita bertemu jodoh, kita kawin, kita punya anak, di situ pun bukan milik kita, sebagian milik istri, sebagian milik suami, nama yang diberikan pada anak, itu pun kata sepakat, terus berlanjut terus, berlanjut pada alam Wahallah, menyatunya penciptanya pada wujud ciptaan, mestinya gitu lho.

Seperjalanan manusia hidup seperti sekarang ini, sudah tidak boleh mengangkat permasalahan agama, sudah nggak boleh mengangkat permasalahan kitab.

Jadi perjalanan Allah menciptakan Utusan, menurunkan Kitab, beliau sudah sudah tidak bisa bergaul seperti kita-kita ini, beliau sudah diberlanjutkan kepada alam berikutnya. Ini adalah ceritanya Allah, jangan sekali-kali wahai manusia yang Aku hidupkan sekarang, ngangkat itu ceritaku, kalau aku cerita, fakta yang berbicara. Tapi kenapa manusia seperti kita-kita ini masih mengangkat cerita aja, cerita Muhammad, semua diberangkatkan dari Nur Muhammad, terciptalah semua makhluk, kita nggak bisa ngejar Muhammad yang pernah bergaul seperti kita sekarang, tapi keberangkatan kita nggak ada beda dari beliau, diberangkat dari Nur Muhammad, karena kita sudah lalai, kita tidak lagi mengenal Nur Muhammad, bahwa terciptanya semua makhluk dari Nur Muhammad, jadi terciptanya semua mahkluk yang ada pada diri kita ini, perjalanan nafas mulai dari kecil membentuk fisik, pertumbuhan fisik, jadi dengan usia nafas, kurang jelas bagaimana, Nur Muhammad, mengantar umat untuk tahu Muhammad, jadi di saat dikenalkan pada perjalanan cara Allah menciptakan, untuk manusia agar tidak selisih kinerjanya dengan Penciptanya, baru manusia ini akan mengenal Alam Ahdiyahnya, kata filosof Arabiah, ?(kutipan)?, masing-masing diantara ada Kholik Sang Pencipta, ada makhluk, itulah manusia, masing-masing, sepertinya kita wujud sendiri, kita diberangkatkan, diwujudkan, kita diwujudkan, jadi saat 9 bulan ada hari kelahiran, di situlah manusia dimerdekakan oleh penciptanya, masih dalam genggaman Allah, kita masih belum baca, kita masih dalam kandungan, kandungan dari nabati yang dimakan tiap hari.

Apa hanya manusia yang bisa bicara, semua makhluk yang diciptakan oleh Allah itu punya bahasa, itu bisa bicara, jadi kalau tanaman atau makanan itu bisa angkat bicara seperti bicaranya manusia, ada bahasa, “(kutipan ayat suci)”, semuanya rupamu adalah rupaku, berangkat dari Sang Pencipta tentunya, adapun mahkluk-makhluk yang lain, yang dimakan, terus angkat bicara sebagaimana manusia, punya apa, akhirnya manusia punya apa, hati yang dimakan, ngambil bagian, rupamu adalah rupaku, yang lainnya dimakan, masih mengambil bagian, rupamu adalah rupaku, punya apa sih manusia, nggak punya apa-apa.

Para hadirin yang dimuliakan Allah, perjalanan kita masing-masing kita punya hitungan usia, andaikan tiap tahun andaikan mulai dari masa kecil kita diabadikan, kita difoto oleh orang tua, sampai hitungan andaikan kita umur 50, manasih rupa aslinya, baru lahir itu kita di foto, samapi kita punya hitungan 50 tahun, mana rupa asli kita, mau nunjuk yang sekarang ?, dua tiga tahun yang lalu rupa siapa di situ.
Para hadirin yang dimuliakan Allah, besar nikmat rahmat yang dilimpahkan kepada kita, kita sudah tidak punya musuh lagi, keberangakatan kita diciptakan, ibu bapak tidak ikut andil menciptakan, kita paling dekat, dekatnya Allah lebih dekat dari urat nadi.
Kita tahu khan, ada orang pingsan, padahal di situ nggk mati, yang mendampingi bingung, dikira mati, sedang yang pingsan itu bersenang-senang di alam sejatinya, diketahuinya orang pingsan nggak mati setelah dilihat nadinya, sedangkan Sang Pencipta lebih dekat dari nadi, kenapa kita harus kebingungan mencari Sang Pencipta, kita paling dekat, tetapi bagaiman cara kita nyampe, kalau tidak berangkat dari kenal diri dulu, siapa yang sanggup mengenal diri tahu jalan pada Tuhannya, karena sudah tahu jalan kepada Tuhannya, tentu sudah berjalan dengan Tuhannya, karena makhluk ini adalah objek, Sang Pencipta adalah subjek, tahu bahwa kita dijalankan, mulai hari dimerdekakan, sepertinya, memang dibersamakan dengan alternatif gitu loh, wong dibersamakan dengan alternatif, sepertinya, karena kita yang diasuh oleh ibu bapak, tapi pada kenyataannya karena perjalanan nafas mulai dikeluarkan dari dalam kandungan sampai sekarang jadi hitungan usia.

Para hadirin yang dimuliakan Allah, roh jasmanilah yang memperjuangkan jasmani ini bisa pindah, mempertemukan jodoh, berumah tangga, semestinya perjalanan untuk kenal diri ini seperjalan usia kita baliq, seperjalan kita usia baliq, ini sebenarnya harus sudah kenal diri semestinya, karena di saat baliq sudah lepas tanggung jawab wali sementara ibu bapak, semestinya ibu bapak sebagai wali sementara mendudukkan pada anak apa itu laki apa itu perempuan, wahai anakku saat ini aku dudukkan kamu, selesailah tugasku, aku mengasuhmu dari saat kamu dilahirkan, kemudian sampai sebatas baliq, pada saat aku dudukkan ini, selesailah tugasku, berangkatlah kamu, mencari wali khodilmu, mencari wali abadimu, yang menciptakan kamu dan aku, semua makhluk, kalau sudah tidak disa aku engantar kamu, tidak bisa aku menjadi temanmu apalagi kamu bisa bersama yang lain?, kamu bisa nyampe kepada wali kekalmu, wali abadimu, wali langgeng – kata orang awam wali khodim – kata Arobbiah, kalau kamu sanggup berangkat dengan dirimu sendiri. Makanya di dalam Al Quran, setelah manusia ini sanggup seperti hidup sekarang, nyata-nyata berwalikan Allah, tidak ada rasa Takut, nggak ada rasa duak cita, Quran sudah menjelaskan (kutipan ayat), siapa-siapa yang berwalikan Allah, seperti kita kita yang dihidupkan, ngumpul sekarang ini, nggak ada rasa takut, nggak ada pula duka cita, tapi nyatanya kita masih takut.

Para hadirin yang dimuliakan Allah, kapan kita sanggup, kapan kita akan sanggup berwalikan Allah kalau tidak sekarang, yah kita sudah didahulukan sebagai wali-Nya, wali-Nya Allah, wali amanah, mengemban titipan Allah yang terakhir dari sperma ini, kapan kita akan mengenal, yang menciptakan sebagai walinya, berangkat sudah masa sampai baliq, itu wali sementara, ibu bapak. Para hadirin yang dimuliakan Allah, jadi selama ini perjalanan manusia nggak selesai bermasalah, ini manusia sendiri belum mengkaji, bahwa belum mengkaji, kenapa ?, kalau quran ini dikenal kitab terakhirnya fungsi dari Quran itu dikenal mujizat, tentunya mengantar umat manusia akhir jaman ini nyampai pada tujuannya tanpa masalah, andaikan manusia ini sanggup menyadari, berapa hijriyah sih dari perjalanan beliau Muhammad Rasululah Saw yang melimpahkan Quran, ini sudah berkisar 1500 tahun, kita manusia umurnya berapa sih, terus kita mempermasalahkan Quran, mempermasalahkan kitab, jauh sebelum kita dilahirkan, kita sudah diterimakan, kepada yang menerima saja kita belum mengenal, kita sudah ngangkat kita sebagai penyampai kitab, penyampai ayat, kenapa kalau kitab itu bisa diciptakan oleh manusia setelah diwahyukan oleh Allah, kenapa manusianya nggak bisa diciptakan sebagaimana kitab yang diwahyukan oleh Allah kepada manusia. Sebetulnya manusia ini adalah ilmunya Allah, wujud ilmunya Allah adalah manusia ini, makanya seperjalanan manusia dihidupkan, tumbuhlah ilmu-ilmu pengetahuan, jadi nyatanya petunjuk yang diterimakan pada masa masih dalam kandungan, di saat hidup seperti sekarang, apa yang ditemukan, yang sudah dikelola, ditangani, dan diterbitkan dan dibaca oleh manusia ini, ini duduknya terhitung petunjuk, nyatanya petunjuk yang sudah diterimakan selama masih dalam kandungan.

Para hadirin yang dimuliakan Allah, andaikan manusia ini tidak mengenyampingkan bahwa yang ada ini hanya kinerjanya Allah, justru manusia ini lancang mengenyampingkan kinerjanya Allah, menutup-nutupi maunya atau menghilangkan kinerjanya Allah, ngangkat atau mengaklamasikan kinerjanya sendiri, mana bisa wong kinerjanya manusia cuma karya sebagaimana halnya umpet?, kita masih diciptakan dari perjalanan itu tadi, hitungan usia, dari berangkat hari dilahirkan sampai andaikan usia 50, tiap tahun difoto, kita punya rupa 50, andaikan masih akan 100 tahun kita masih berupaya 50 mendatang, secara ilmiah masa depan ini khan 2001, 2002 sampai dua ribu berapa, itu kata ilmiah, ??????<ganti side>???????? kalau nggak sanggup kenapa kamu lalui, berapa nafas di situ kamu gunakan, dikemanakan saja di saat kamu bernafas. Para hadirin yang dimuliakan Allah, di dalam diri manusia ini sudah komplit, ada sarana untuk memperingatkan dirinya ada, ada sarana untuk mengawasi dirinya ada, ada sarana mempeerhitungkan diriny yang dikenal manajemen untuk tidak jatuh merugi ini sudah ada, sarana menghidupkan dirinya sudah ada, sarana memperjuangkan dirinya sudah ada, sarana menetralisasikan dirinya sudah ada, sarana untuk membuka semua lorong-lorong untuk tidak menemukan jalan buntu ini sudah ada semuanya, tapi kenapa kita masih kebingungan ??
Demikian saya kembalikan.

Pak Krishna:

Terima kasih, Bapak Kyai ini dari Jember, teman-teman yang mungkin belum tahu, beliau ini dari Jember dan di sana ada semacam Pesantren yah Pak, {Ki Bashiro: di sana nggak ada pesantren tapi ada pondokan}Yah, disana nggak ada pesantren, tapi santrinya ada, ^-^?{^-^?}, santrinya ada yang keluar masuk dan ada banyak pengalaman di situ, terakhir saya ketemu beliau di Surabaya, ada Mas Agung, ada Pak Slamet, ada Gede, [siapa lagi yah?], Liny, [itu saja], dalam suasana yang lebih informil mungkin, di kamar hotel, terus ada Pak Yami yah, mungkin saudara Pak Wahyudi Yah, Yah kakaknya yah, ada beliau juga mengantar, dan kita bisa bicara banyak tentang pengalaman-pengalaman Pak Yami sendiri setelah berkenalan dengan Pak Bashiro, mungkin saya juga pernah bercerita di kelas Jumat sedikit tentang pengalaman itu, kalau ada tanya jawab mungkin, silahkan berdialog mungkin kalau bisa pemicunya provokatif, provokatornya yang pernah ketemu dulu dengan Pak Bashiro di Surabaya, jadi anda kalau jadi provokatif sedikit mungkin yang lain terpicu, tapi mungkin sebelum itu kita berikan waktu sedikit kepada Pak Wahyudi, Terima kasih Pak Wahyudi, untuk mengantar beliau, kita beri waktu sedikit kepada bapak untuk memberikan sedikit pengalaman atau apa saja deh Pak, silahkan Pak.

Pak Wahyudi:

Terima kasih sebelumnya, selamat malam kepada semua, sebetulnya sudah ada beberapa tokoh-tokoh kyai yang saya ajak bicara dari hati ke hati, tapi ada satu sedikit penjelasan di mana kita harus berpikir ulang, sebetulnya apa, kita ini apa, karena kita wujudnya seperti ini akhirnya kita mengaku manusia, dari mana mau kemana dan nanti jadi apa, khan gitu, tapi dengan bertemunya dengan Ki Bashiro, ada sedikit celah, yang memberikan suatu gambaran suatu jawaban dan jawaban itu bukan Ki Bashiro sendiri yang menjawab, tapi masing-masing, masing-masing dimana kita di uji kemampuan kita, kita terutama keikhlasan kita untuk menerima bahwa melihat sesuatu itu kadang-kadang kita harus menginggalkan akal sehat kita, dan itu harus kita percaya, seperti sekarang kalau umat Islam mengatakan ini saatnya Isra Miraj, perjalanan Rasululah dari Mekah ke Jerusalem lantas ke langit lapis tujuh, kalu kita baca berulang-ulang isi Al Quran, tetap saja kita tidak bisa memecahkan misteri kenapa manusia bisa berangakt ke sana, bahkan sampai sekarangpun ilmu pengetahuan tidak akan mampu memecahkan itu, tapi seluruh umat Islam itu harus percaya, walaupun, hati kecil kita itu bertanya, apa iya, nah di sini, Ki Bashiro memberikan suatu alternatif, bahwa melihat sesuatu itu jangan mengandalkan akal sehat, jangan membenarkan mata kita, jangan mengiyakan apa yang kita dengar, tetapi kenali hati kita, kenali diri kita, sebetulnya apa kita ini, setelah itu Insya Allah kita bisa berjalan ke arah yang kita mau, ke arah yang Tuhan mau, saya kira begitu, terima kasih Pak. {Applause?}
????????????

Mas Agung:

Kalau nggak salah Ki Bashiro seperti yang dijanjikan kalau ada papan tulis dan sebagainya akan memberikan gambaran, mungkin karena mungkin tanpa itu mungkin penjelasan sekedarnya, ini khan baru pemanasan, {^-^?}

Pak Gede:

Terima kasih, Ki Bashiro, tadi disebutkan manusia itu selalu ngaku-ngaku semua ini adalah hasil karyanya, tanpa mau berjalan berdampingan dengan Tuhan, nah sekarang seperti yang disebutkan Bapak (Wahyudi) tadi bahwa jangan mengandalkan akal sehat, mungkin pikiran yah dalam hal ini yang dimaksud, jangan mempercayai mata dan sebaginya, nah sekarang bagaimana caranya supaya kita bisa melakukan itu karena tentu saja saya tidak bisa hanya mengatakan saya tidak percaya mata, saya tidak mau mendengar apa yang saya dengar, dengan begitu saya telah berjalan dengan Tuhan, dan dengan ini saya tidak menyombongkan semua ini karya saya semua ini milik au dan aku semuanya, padahal seperti Ki Bashiro tadi bilang, itu tidak ada itu semuanya, dan kita sudah sempurna waktu diciptakan, kita sendiri mencari-cari lagi, mengidentifikasikan dengan sekitar itu, itulah sya ini saya, itu saya, padahal sudah sempurna dari diciptakan itu, nah kira-kira jalan supaya kembali, (apa istilahnya, Fitrah yah kalu nggak salah) aslinya diciptakan, bagaimana, kira-kira gitu jalannya, terima kasih.

Ki Bashiro:

Terima Kasih, sebetulnya nggak ada sulit jadi kalau kita betul-betul ada kemauan, sudah dijelaskan saat-saat sekarang ini pada umumnya umat Islam memperingati Isra dan Miraj, sebelum beliaunya di miraj ini sudah diotopsi, dibedah dulu, itu cerita, jadi kalau kita sekarang masih akan percaya akan cerita, bayangan kita ini kalau saat beliau ini mau di miraj itu dibedah, yang membedah itu malaikat, yang ad di bayangan kita itu khan medis, (^-^), sempit khan kita wawasan, kalau kita membayangkan beliau di bedah, sebelum di miraj kan terus menggambarkan apa yang dikenal sekarang, sempit wawasan kita kalau begitu. Sebetulnya perjalanan cerita yang sudah ditulis, itu khan perjalanan masa dari perjalanan mengenal huruf atau di sekolah seperti pendidikan formal, SD lah, dikatakan berangatnya dari situ sampai SMP, jadi Setelah SMA ke atas itu, ini kah sudah masa puber, jadi semestinya manusia sudah mulai membedah diri, semestinya bahwa sebelum jasad ini diciptakan khan ada jasad yang persis serupa dengan yang setiap hari kita lihat melalui cermin, tapi kita melihat ketika tidur yang disebut rupa halus, jadi kalau gurukan, apapun yah tidak akan bisa, walaupun pada kenyataannya guru manusia ini yang menciptakan manusia, asli, tetep nggak berubah, kalau manusia akan menggunakan akal pikiran, siapa yang menciptakan akal pikiran, khan diberangkatkan dari tetesan sperma itu tadi, jadi otak, berfungsi untuk berfikir khan tidak cuma manusia yang berotak, hewan pun dikasih otak, tapi tidak berfungsi berfikir seperti manusia,dan nggak ada sulit, jadi permintaan waktu di Surabaya, siapkan papan itu karena ini untuk dijabarkan gitu loh, jadi giam yah, karena di Jember sendiri sudah disiapkan papan untuk mengenal berangakat dari kode etik untuk mengenal rumus untuk mengenal jalan dan sebagainya, apa yang dibicarakan, apa yang disampaikan, betul-betul masih belum terilmiahkan, jadi kalau ada istilahnya tanya jawab atau pertanyaan, yah sebetulnya yah nggak ada jeleknya wong manusia paling sempurna, seperjalanan manusia ini tumbuhnya baik, salah itu tidak ada sebetulnya, salah itu nggak ada, kalau kita bergaul sudah saling menyalahkan wong kita sudah ciptaan-Nya, kita sudah ciptaan-Nya, khan kita nining kepada yang menciptakan kalau kita sudah saling menyalahkan, hanya faktor dari tidak mengenal petunjuk, tidak mengenal klasifikasi gitu loh, khan sudah ada contoh kecilnya sebagaimana pendidikan formal, yang dikenal syariah dalam ajaran Islam itu, kalau SD itu khan kurikulum, yang diajarkan oleh guru pada murid sehari-hari, tarikah itu catur wulan nya, hakikat itu kenaikan kelasnya, baru setelah kelas atu , di kelas dua itu sudah marifat, SMP khan begitu juga, syariah itu khan kurikulum, yang diajarkan oleh guru pada murid sehari-hari, tarikah itu catur wulan nya, SMP khan juga ada, hakikat itu kenaikan kelas, kelsa satu selesai, marifat pulalah, menghadapi kelas duanya, berangkat dari syariah, untuk menghadapi catur wulannya kelas duanya sampai kenaikannya, SMA nya juga. Jadi sebetulnya manusia yang ngunyah ini ini khan sudah syariah, mengambil hidangan, terus dikunyah, terus ditelan, ini kahn sudah hakikat, tahu sudah habis, marifat, ambil lagi, dikunyah lagi tarikah ini, ditelan, ini hakikat, tahu sudah habis, marifat, ambil lagi, lah perjalanan ini syariahnya tarikah, nggak mampu mengakal sudah, nalar nggak bisa sudah, gimana, syariahnya tarikah ini terus masuknya pencernaan, terproses di situ, ini tarikahnya tarikah, sampah, diambil nabatinya, tensi darah, tanda hakikatnya buang air besar di toilet. Ini semua antara mulai dari dikunyah masih bisa dinalar akal, sampai tarikah yang sudah tidak mampu nalar ini membaca, ini khan faktor dari fungsinya jantung, makanya di saat pingsan sudah nggak berfungsi semua khan hanya tensi darah, jadi nabati masuk pada kantong tabung, seperti halnya pada kantong infus itu kahn, netes pada selang, masuk pada jarum itu tarikahnya, samapi habis itu baru hakikatnya, baru ada stamina, walaupun nggak makan bisa tegar, khan nggak sulit sebetulnya, waktu di Surabaya khan Ki Bashiro sudah minta gitu loh, ^-^, ini pertemuan ini tiap minggu yah, yah barangkali masih di Jakarta lah,?

Pak Slamet:

Terima kasih kesempatannya waktu di Surabaya khan teman kita cerita, waktu pertama kali sowan ke Ki Bashiro, dikasih minum dan pisang, tidak dimakan walaupun sudah sampai tiga kali disuruhkan, karena teman kita itu lagi berpuasa Ramadhan, kenapa kok kita itu bisa tidak perlu berpuasa atau tidakperlu sholat, dan sebagainnya, terima kasih.

Ki Bashiro:

Terima kasih pula, sebetulnya sudah dijawab sebelum ditanyakan, ^-^, sebetulnya sudah dijawab sebelum ditanyakan, sebetulnya hakiki manusia itukhan rohnya sebetulnya khan badan ini cuma rangka, gitu khan, jadi sebetulnya nafas ini diibaratkan manusia menyimpulkan khan langkah itu kaki dikenal, nafas ini khan langkahnya roh jasmani, karena seukuran dengan jasmani mulai dalam kandungan, sepertinya jasmani ini yang melangkah, yang bergerak, padahal roh jasmani ini yang dipercaya Allah menunjukkan, wahai jasmaniku, kata roh jasmani, kalau kamu dari ini, yah kamu makan itu tadi khan, dari ini kalau aku nggak seperti kamu, gitu, ^-^?, ini selalu ditunjukkan kamu dari ini, kamu dari ini, makanya di saat manusia telah dipertemukan kembali dengan petunjuk Allah, itulah manusia yang paling beruntung, jadi manusia yang paling beruntung pada masa akhir jaman ini adalah yang dipertemukan kembali dengan petunjuk yang dibekalkan kepada kita, hanya itu yang paling beruntung, itu tadi, kita khan bukan anak kecil lahi, bukan syariah, bukan anak SD lagi, gitu loh, seperjalanan kita seperti kita pingsan itu loh khan sudah nggak makan gitu loh, ^-^, bisa hidup khan punya hidangan tersendiri yang dikenal sebagai maidah, makanya di saat sebelum dihidupkan seperti sekarang ini, untuk tidak silau, seperjalanan di hidupkan di dunia yang fana ini sudah dibekalkan, alam prosesnya itu sudah dibekalkan, masih dibekalkan, jadi tentang permasalahan apa yang dibahas di Surabaya, kita khan semua ini mencari hakikinya jadi kalau ada ayat yang sudah dituli dan bisa dikelola oleh manusia, itu saja nggak ada putusnya, ??(kutipan ayat suci)??, satu kali tarik nafas, kenapa pada kenyataannya setelah manusia mengangkat ayat begitu kok dipilah-pilah, sholat dulu, setelah itu zakat, setelah itu puasa, setelah itu haji, kenapa, padahal itu satu kali tarik nafas, makanya dibuktikan di saat Allah itu sudah memperingatkan secara langsung, kenapa sih manusia masih tidak percaya bahwa petunjuk itu sudah dibekalkan, disembunyikan sebentar, jadi orang pingsan itu cuma disembunyikan sebentar kok, mana akal, yang mendampingi orang pingsan, nggak ada, mana suara, nggak ada, akhirnya dikembalikan, lha dia akan barusan akau didatangi orang tua, diajak pergi, aku maunya pamit, ^-^, wong nggak boleh, yah sudah, aku bersenang-senag di sana ngikutin, sudah sampai di sana tahu-tahu di situ ada penjaga, nggak boleh masuk aku, diajak suruh kembali, aku sadar, di situ lah. Jadi permasalahan sudah terjawab semua, jadi pertanyaan itu tidak ada, benar-benar tidak ada, karena Quran kitab terakhirnya, ??(kutipan ayat suci)??, yang dari Allah tanpa penghubung itu adalah jalan menuju Allah, ada jasad halus, ada jasad hati, ada jasad ruh, ada jasad rasa, jadi kalau sudah hijaiyah jadi busananya jasad halus tadi maka, perjalanan manusia adalah struktur dari kebenaran hijaiyah yang suda dikenal Quran. Jadi Bismillah al-Rahman al-Rahim itu kepala, Al-hamd li Allah rab al?-alamin, itu dada, al-Rahman al-Rahim itu perut, maliki yaum al-din itu tangan kanan, iyyaka na?budu wa iyyaka nasta?in itu tangan kiri, ihdina sirath al-mustaqim itu kaki kanan, sirath al-ladina an?amta?alaihim ghairil-magduh?alaihim wa la al-dalin, itu kaki kiri, amiin – pertumbuhan fisik dengan sempurna.

Pak Djoko:

Terima ksih atas kesempatannnya, Bapak Kyai Bashiro, setelah saya mempelajari beberapa ayat dari Al Quran dan saya mencoba tadi mendengarkan ungkapan dari Ki Bashiro khususnya mengenai kitab, disana disebutkan bahwa Al quran adalah kitab terakahir diturunkan oleh Allah SWT, masih ada semacam pertanyaan dari saya pak yang masih mengganjal, di dalam salah satu ayat Al Quran, kalau tidak salah disebutkan bahwa semua kitab termasuk kitab Al Quran pun ada atau berada di dalam buku induk Al Kitab yang berada di sisi Allah begitu, yang sering kalau tidak salah itu disebut lauhil mahfudz, mungkin bapak bisa memberi penjelasan yng dimaksudkan lohil mahfus ini apa yang dimaksud, yang berada di sisi Allah, terima kasih Pak.

Ki Bashiro:

Terima kasih atas pertanyaan dari Bapak Djoko, makanya Quran sendiri sudah menjelaskan, Quran tidak bisa dijadikan petunjuk apalagi kalau dikufuri satu ayat saja, satu bagian saja, ini sudah jelas dalam Quran, Quran tidak biasa menjadi petunjuk apabila tinggal sebagian, jadi keberangkatan terciptanya makhluk ini memang mulai dari Muhammad, Muhammad Khorib, Muhammad Khorib itu sepuluh dimensi dikenalnya aktyan sabit, akyan mulkinat, wujud idolfi, ruh idolfi, kanjul kashfi, halkikatul asfia, badrul alam, maklul_ _ , Rasullulah, _ _ _, jadi menyatunya 10 dimensi itu dikenal sebagai Nur Muhammad, dari muka Nur Muhammah Allah menciptakan _ _ _ _ , _ _ _ _, langit, bintang, bulan dan matahari, _ _ _ _ _, dari hidung Nur Muhammad Allah menciptakan para malaikat, dari alis Nur Muhammad Allah menciptakan umat Muhammad yang mukmin, Syuhada Syuhadin, dari dada Nur Muhammad Allah menciptakan para nabi, para rasul, para ulama, dari punggung Nur Muhammad Allah menciptakan baitul makmur, baitul mukadas, baitullah, mesjid, roh sudah punya sujud, kalau di saat roh sebelum ditemapatkan pada jasmani ini nggak ada mesjidnya mau sujud di mana, dari telinga Nur Muhammad Allah menciptakan roh nasrani, roh yahudi, roh majusi, dari kaki Nur Muhammad Allah menciptakan bumi dan isinya, jadi kalau Quran itu menjelaskanquran itu di lohul mahfuitu khan _ _ _ _ arobbiah, filosofi arobbiyah, _ _ _ ini apa, _ _ _ ini apa, ini dibahasakan dululah gitu lah, muka yang dijaga, muka yang di jaga, muka? sementara amnusia ini mengenal kan _ _ _ , muka?, padahal ini ciptaan yang terakhir, sebelum ini ada khan apa itu bukan muka, setelah kamu mengenal itu kahn masih akan ada lagi, apakah itu bukan muka, setelah mengenal semuanya baru kita mengenal yang menciptakan kesemuanya, maknya tolong kalau masih ada waktu nanti, tolong disahakan minggu depan papan tulislah,?sabar yah, soalnya kalau begini khan sepotong-sepotong nantinya, makanya tinggal sebagian saja Quran sudah menjelaskan dengan tegas, nggak bisa dijadikan petunjuk, diambil dari hijaiyah itu tadi, huruf iyya kaki kiri adakah manusia ini sanggup tidak menggunakan telapak kaki kirinya sebagian saja, khan tidak ada khan, makanya tidak bisa ditinggal kan walupun sebagian, abjadnya arobbiyah tadi dijelaskan kalau dalam Quran terakhir itu, ??(kutipan ayat suci)??, terakhir khan di situ, yusro, dijalankan, itu keyakinan khan_ _ _ _ _ , gimana untuk jawaban mengenal masalah Nur mahfud yang, kalau teman ada yang bertanya mengenai nur mahfud khan semuanya berangkat dari Nur Muhammad, kalu ada apapan tulis khan misal ada yang sudah dijabarkan, tanyalah untuk dijabar ulang, tentunya runtut khan tertib, lauhil mahfud ya itu, pertama muka, khan Allah sendiri yang menciptakan diri-Nya, Aku ini kata Allah aku adalah perbendaharaan dari segala perbendaharaan, Aku butuh dilihat, Aku butuh disaksikan, terus ada bimbingan syahadat, aku ciptakan aku , jadi sebetulnya manusia ini adalah tidak mengambil ibarat dari luar lagi, Allah menciptakan manusia ini ibaratnya Allah sendiri, memang jangan samapi terlintas aku tidak ada bedanya dengan Penciptanya, lha wong diciptakan kok, jadi manusia ini sudah dinomorsatukan oleh Allah, masa hidup sekarang ini loh, ini loh nomor satu ciptaan-Ku, manusia sudah dinomorsatukan, lha kapan mau menikmati. Jadi sudah kedahuluan Allah semuanya, mau mencintai Allah sudah kedahuluan, wujud cinyanya Allah, Allah menyelesaikan sperma ibu bapak, la wong ini sudah cinta kasih ibu bapak, setianya ibu bapak, harmonisnya rumah tangga ibu bapak, yang bersangkutan beliaunya tidak merasakan diambil untuk diciptakan manusia berikutnya setelah dirinya, ini, cinta kashnya ibu bapak, cinta kasihnya ibu bapak ini?, tapi kalau ibu bapaknya ?, nggak bisa, diikuti itu nggak bisa, karena harus timbul emosionalnya, khan ini sudah campuran, di saat anak laki-laki akan dididik sebagaimana kemauan ibu bapak khan prosesnya sebagian dari sperma ibu, dia menjerit, nggak pak, aku nggak sanggup, ngikuti kamu, wong aku dari tetesan sperma dari ibu aku dibentuk laki-laki, bagaimana, makanya di situ ada bahasa ruh gitu loh, di saat anak perempuan diarahkan untuk seperti ibunya, jasadnya ini yang sudah terproses ini juga menjerit, karena sebagian dari ayah, nggak bu, aku nggak mau nurutin kemauan mu itu nggak bisa bu, aku dari tetesan sperma bapak, gimana aku dijadikan perempuan ini gimana, makanya seperjalanan seperti ini figur terbentuk nggak ada laki nggak ada perempuan sama berangkatnya, adilnya Allah di situ, dari sperma ibu bapak, cuma manusia harus mengenal derajat laki nya ini di mana, derajat perempuannya ini di mana, derajat perempuannya ini adalah hidpnya perjalanan, ini semasa dikenalkan pada kandungan-kandungan nabati yang dimakan setiap hari itu, yang selalu menerima layanan, derajat lakinya roh jasmaninya yang selalu melayani yang selalu menunjukkan jalan untuk mengenal dirinya. Jadi kalau manusia seperti para pendahulu walaupun ada perempuan di Indonesia , ada Cut Nyak Dien, R.A.Kartini, bentuk figurnya itu perempuan, tapi karena dibuatkan pecontohan oleh Allah, walaupun yang bersangkutan alternatif tahu dan tidaknya kita tidak bisa tahu persis yang jelas seperjalanan R.A.Kartini itu dia sebagai pahlawan padahal dia perempuan, gitu loh, bahasa perjalananan fisiknya, sosoknya ini diapdukan dengan derajat lakinya, makanya dia mampu jadi pemimpin, ada pula yang figurnya laki-laki, diangakt pemimpin malah tidak bisa mengambil keputusan apa-apa, betul figurnya atau fisiknya laki-laki, tapi perempuanya kadar persentasenya lebih besar, sehinggakepemimpinannya nggak ada beda, urusan.., ^-^, apa yah, kayak bencong aja gitu khan, ^-^.

Pak Wayan:

Terima kasih Pak Ki Bashiro, tadi bapak mengatakan untuk dapat mengenal Nur Muhammad itu, harus mengenal diri kita sendiri mengenal diri itu, sering sekali kita di buku-buku juga, di kitab suci juga menunjukkan itu, mungkin entah melalui pengalaman bapak mungkin bisa memberi tahu secara rinci, bagaimana? {Pak Krishna nyeletuk: rinci?, jangan rinci, jamnya sudah mulai larut, {^-^?, ^-^?} nanti dimarah-marahin sama Tipuk ^-^? {^-^?, ^-^?}}?^-^, yah gambaran kepada saya Pak, lalu apa yang harus saya kenal, Pak, saat ini yah saya kenal fisik saya seperti ini, warna nya hitam seperti ini atau ada sesuatu yang lain yang merupakan kata kunci atau kunci pembuka dengan Nur Muhammad itu, Terima kasih.

Ki Bashiro:

Terima kasih, jadi permasalahan Nur Muhammad ini bahan baku dari Sang Pencipta menciptakan semua makhluk, sampai perjalanan terciptanya manusia yang pada kumpul pada malam ini, wong ini keberangkatan yang keberapa kalinya, jadi perjalanan Nur Muhammmad kalau kita mau menghitung saat kita mau menghitung saat kita hidup sekarang, sebetulnya nggak ada sulit sebab nalar kita sudah tinggi, bisa kita berfikir secara normal, contoh kecilnya gitu loh, Nur Muhammad seperti perjalanan manusia menggali tanah, mewujud satu, sumur, di situ khan ada pori-pori bumi, yang dikenal 10 dimensi itu tadi Muhammad Khorib, terus kumpul di situ yang bisa ditimba untuk mandi, untuk cuci, untuk menjadikan semua, itu gambarannya , yang dikenal Muhammad. Kalu bumi kasar di situ bisa dijadikan petunjuk, lha mengapa manusia nggak menggali yang di sini, wong ini sudah nabatinya, gali sumur khan ada , nah di situ 10 dimensi di situ, terus bisa ditimba, itulah Nur Muhammad berfungsi untuk menjadikan bangunan bisa kokoh antara batu kali, pasir, semen jadi bangunan kaya gitu, jadikan manusia sanggup menggali lagi, tentunya tidak akan ada perselisuhan di masa dihidupkan ini, itu gambaran. Terima kasih.

Pak Krishna:

Terima kasih banyak, pertemuan kita ini menarik sekali, seharusnya kita punya waktu yang lebih, sudah terlambat setengah jam jadi teman-teman kita yang tinggalnya jauh, tadi macet, hujan lagi, jadi?, sementara ada teman-teman kita di sini yang pulangnya jauh sekali yah, ?????<rekaman berakhir>???


							        	

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.